Kamis, 27 Desember 2018

PROPERTY SYARIAH DALAM KERJASAMA LAHAN

Bisnis property sekarang memang lesu, tetapi malah memunculkan konsep baru bisnis property dengan model SYARIAH. Salah satu cara untuk menghemat modal dalam memulai bisnis property adalah dengan mengadalakan kerja sama dengan pihak lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk menekan buget dalam pelaksanaanya nanti. Berikut ini adalah salah satu kerjasama dalam property syariah.
Kerjasama lahan merupakan pola kerjasama antara pemilik tanah dengan pengembang / developer untuk melaksanakan sebuah proyek property, baik proyek tersebut berupa perumahan, apartemen, gedung perkantoran atau produk properti lainnya.
Idealnya kerjasama lahan adalah untuk proyek-proyek yang produknya dijual putus kepada pembeli / conseumen terkahir, jadi bukan untuk proyek dengan sistem Kerjasama Operasi (KSO) atau dengan sistem Build Operate and Transfer(BOT).
Hal yang perlu diperhatikan dalam kerjasama lahan ini diantaranya adalah prinsip saling percaya dan adil. Adil yang dimaksud disini adalah pelaksanaan kerjasama dengan menerapkan prinsip proporsional, siapa yang menanggung resiko paling besar dialah yang mendapatkan bagian paling banyak. Pada kenyataannya developerlah yang akan menanggung resiko lebih besar karena pengembang mengerjakan proyek property di atas tanah milik orang lain bukan pada tanah miliknya sendiri.
Apabila sudah mengerjakan proyek di suatu lokasi sudah dipastikan bahwa developer mengeluarkan dana / biaya untuk pengerjaan proyek tersebut. Walaupun pengerjaan proyek tersebut masih dalam tahapan land clearing, pengurugan dan pekerjaan tahap awal lainnya.
Sementara pemilik lahan bisa dikatakan lebih aman karena penyertaannya dalam proyek adalah berbentuk tanah yang tidak mungkin bisa dibawa lari. Jadi jika terjadi kegagalan proyek maka developer akan kehilangan uang sedangkan tanah tidak hilang.

Keuntungan dan kerugian kerjasama lahan

Bagi pemilik lahan keuntungan kerjasama lahan ini adalah dia mendapatkan bagian keuntungan proyek selain mendapatkan harga tanah. Sementara bagi developer kerjasama lahan ini mereduksi modal kerja yang dibutuhkan untuk mengolah suatu proyek.
Karena berdasarkan pengalaman alokasi dana untuk mengakuisisi lahan ini mengambil porsi lebih kurang tigapuluh persen dari RAB proyek. Bisa dihitung keringanan kebutuhan biaya investasi jika proyek menerapkan pola kerjasama lahan dengan pemilik tanah.
Kerugian kerjasama lahan ini bagi pemilik lahan adalah mereka tidak mendapatkan uang pembayaran atas harga tanahnya sekaligus. Sementara bagi developer kerugian kerjasama lahan ini adalah developer musti rela berbagi keuntungan dengan pemilik lahan.
Akan tetapi jika kita menghitung berdasarkan prosentase keuntungan maka kerjasama lahan ini memberikan prosentase keuntungan yang lebih besar walaupun nominalnya lebih kecil. Adalah pilihan kita apakah kita bermain di prosentase atau nominal.

Menghitung besarnya bagi hasil

Sebenarnya menghitung besaran bagi hasil proyek harus dengan detil dengan memperhatikan besaran bagian masing-masing pihak dalam proyek, supaya bagi hasilnya memenuhi prinsip-prinsip keadilan.
Besarnya bagian pemilik lahan bisa dilihat dengan membandingkan prosentase harga tanah dengan RAB proyek. Sehingga semakin tinggi harga tanah semakin besar pula bagian pemilik lahan.
Akan tetapi kebanyakan developer tidak menghitung dengan sistem tersebut karena terlalu rumit sedangkan pemilik lahan pada umumnya tidak mau mendengarkan yang rumit-rumit, walaupun untuk keperluan internal atau pembuatan studi / analisa memerlukan perhitungan detail.
Sehingga sistem tersebut disimplifikasi dengan menawarkan pilihan-pilihan besarnya bagi hasil kepada pemilik lahan, seperti 80:20, 70:30, 60:40, 50:50 atau sebaliknya. Sebagai contoh jika developer menawarkan pola bagi hasil 70:30 kepada pemilik lahan, maka bagian pemilik lahan adalah tiga puluh persen dari laba bersih proyek.
Jika harga tanah lebih kecil dari harga bangunan atau lokasi hanya cocok dibangun Rumah Sederhana Sehat (RSH) porsi bagi hasilnya yang lebih cocok adalah 80:20 untuk developer.
Demikian juga jika harga tanah mendekati harga bangunan permeternya sang developer bisa menawarkan bagi hasil dengan sistem 60:40 bagi developer.
Sedangkan kalau harga tanah sama atau lebih besar jika dibandingkan dengan harga bangunan maka bagi hasil yang pantas adalah 50:50 atau dengan kesepakatan lain.
Hal yang tak boleh dilupakan, jika pemilik lahan meminta uang muka atas tanahnya maka porsi keuntungannya juga menjadi lebih kecil.
Perlu diingat juga bahwa porsi keuntungan yang akan ditawarkan kepada pemilik tanah ini tidak harus seperti di atas. Anda sebagai pengembang atau developer bisa menawarkan bagi hasil dengan pola seperti apapun asalkan disepakati oleh pemilik lahan. Sebaiknya memilih lahan yang siap bangun, jangan tanah perwahan atau jalur hijau.
Untuk memastikan pelaksanaan kerjasama ini nantinya harus dibuatkan perjanjian tertulis dengan akta notaris supaya memiliki kekuatan hukum yang lebih mengikat dan saling percaya. Sebaiknya dimusyawarahkan jika terjadi perselisihan.
Dalam perjanjian kerjasama tersebut dicantumkan masing-masing hak dan kewajiban para pihak, disertai juga dengan sanksi-sanksi jika salah satu pihak wanprestasi..
Selamat menjadi pengembang syariah yang amanah
Note: Jika anda memiliki lahan dan ingin mencari developer yang bisa mengerjakan lahan anda dengan sistem bagi hasil yang jujur dan sesuai Syari’ah Islam, silahkan menghubungi kami.

Anastudio 08211-500-5008

Minggu, 17 September 2017

Sarbagita Oh Sarbagita

Memiliki kendaraan bermotor baik motor maupun mobil adalah dambaan setiap orang. Hal ini dimaksudkan agar bisa jalan kemana-mana dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya alias ongkos. Tetapi sebagian orang yang tidak meliki cukup uang untuk membeli kendaraan bermotor biasa menggunakan transportasi umum seperti angkot, bus, taxi dan trasportasi online.
Dipulau Bali khususnya yang mendapat julukan surganya wisata jarang sekali ditemukan trasportasi umum seperti angkot. Yang paling mudah ditemukan adalah taxi, untuk angkutan umum seperti bus Sarbagita mirip dengan bus Trans Jakarta hanya diwilayah tertentu. Sehingga peminat dari transportasi ini sepi, Karena tujuan dan waktu tunggunya yang lama.


Pengalaman pribadi menggunakan transportasi bus Sarbagita neh. Saya dengan rombongan pergi dari Kediri, Tabanan berencana ke tujuan Mall Bali Galeria (MBG) yang terletak di Simpang Dewa Ruci, Kuta. Perjalanan dimulai pukul 08.00 WITA, naik dari Supermarket Hardys Tabanan, setelah setengah jam tunggu di halte akhirnya bus Sarbagita datang. Waktu tempuh dari Hardys Tabanan ke MBG kurang lebih satu jam 45 menit dan saya beserta rombongan harus berganti bus di halte Mahendradata. Terus terang didalah bus Sarbagita sangat nyaman, AC dingin dan tempat duduk sangat lega. Ongkos sekali naik Sarbagita Rp. 3.500,- untuk dewasa dan Rp. 2.500,- untuk pelajar, sedangkan untuk anak-anak masih GRATIS. Setelah sampai di MBG saya beserta rombongan berencana pulah jam 14.00 WITA. Akhirnya kami nunggu di halte Simpang Dewa Ruci yang terletak diujung persimpangan jalan. Sejam kami nunggu bus jurusan Tabanan belum nongol, dua jam berlalu sampai jajan dan makanan ludes belum nongol juga. Kami nunggu bukan di halte tetapi di trotoar yang tidak beratap Karena halte bus tidak muat. Dan akhirnya jam 17.00 WITA bus Sarbagita nongol…Alhamdulillah… Saya tanya ke supir bus tersebut, “Kok datangnya lama Pak?” supir bus menjawab “ada masalah bus yang satunya Pak, bus jurusan ke Tabanan yang beroperasi hanya 2 unit saja”. Oalah pantes lama sekali, kabarnya bus Sarbagita lewat paling lama sejam. Mungkin bukan hari baik saya dan rombongan, hari yang sangat melelahkan.

Pengalaman lain saya selain itu adalah waktu saya terbang dari Jogja ke Bali. Rencananya mau pulang ke Tabanan naik bus Sarbagita Karena tarifnya murah dan nyaman. Karena waktu tunggu lebih dari dua jam tidak nongol juga akhirnya saya naik taxi bandara yang tarifnya MAHAL SEKALI. Masak rute Bandara ke kantor saya di Seminyak Rp.150.000,-, haduh…tambahin Rp. 100.000,- bisa buat ongkos Bali ke Jogja via bus. Kenapa tarif taxi bandara begitu mahal? Dan kenapa harus monopoli traspostasi bandara?

Sebenarnya dengan adanya transportasi umum seperti Sarbagita sangat membantu masyrakat menuju ke suatu tujuan. Tetapi waktu tunggu dan ruang tunggunya (halte) belum senyaman di Jakarta. Semoga suatu saat nanti pelayanan bus Sarbagita lebih baik dan tidak membuat orang kapok memakai jasa transportasi public / umum.

Jika memiliki pengalaman memakai transportasi umum lainnya bisa share disini. 
Semoga kita memperoleh pelayanan publik yang nyaman dan aman.

Senin, 05 Juni 2017

Banyumala Waterfall di Wanagiri, Bali

Sungguh sanggat exotic keindahan alam di pulai Bali, selain pantainya yang cantik pemandangan alam pegunungan pun sangat mempesona. Kami akan memeperkenalkan salah satu tempat yang patut dikunjungi bagi pecinta pemandangan alam air terjun atau waterfall.
Ya air terjun atau bahasa kerennya waterfall. Ulasan kali ini adalah air terjun Banyumala yang terletak di Wanagiri, kabupaten Buleleng provinsi Bali.

Salah Satu Spot Foto di Banyumala Waterfall
Perjalanan dari Denpasar ke lokasi sekitar 1 jam 30 menit jika kondisi jalan normal. Kami memakai transportasi motor agar lebih mobile. Dan bisa menikmati pemandangan sekitar. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 WITA dan alhamdulillah kondisi cuaca juga mendukung. Kami memakai jasa GPS Google map yang surah kami download di smartphone kami. Ketelah kami menemukan titik spot lokasinya langsung cap cus....
Hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum meluncur ke TKP adalah sebagai berikut:
  1. Alat komunikasi semisal hp atau lebih baik smartphone tentunya dengan quota internet ya brow
  2. Batree dipastikan masih penuh untuk poin 1 diatas
  3. Cek kondisi kendaraan, ban, rem dan tentunya bensin mangan sampai kosong
  4. Bawa uang ya brow, buat beli ticket sama buat makan
  5. Kalau perlu pelajari rute yang dikunjungi, agar kita bisa mempersiapkan bekal
Lokasinya agak susah ditemukan, setelah lewat danau Beratan dan danau Buyan, maka cari arah yang menuju Wanagiri. Akses jalan menuju air terjun Banyumala sudah lumayan bagus dengan cor kanan kiri. Agar repot kalau pakai roda empat, soalnya sempit pas buat satu mobil.
Setelah Parkir dan bayar parkir tanya Rp. 2.000,- maka kita bisa menuju jalan kaki menuju air terjunnya. Sebelum masuk ke area air terjun beli ticket masut Rp. 10.000,- cukup murah sekali. Saran sana ya, harus bawa air minum dan makan secukupnya karens jalannya lumayan. Tetapi semua itu bisa terbayar lunas oleh indahnya air terjun Banyumala....subhanallah...sungguh indah dan santa mempesona. Pasti tidak akan tahan lihat segarnya, langsung kami ganti baju dan langsung menceburkan diri ke air Banymala waterfall...SEGARRR....



Peru hati-hati dilokasi yah, jaga sikap dan perbuatan. Dan jagan lupa jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan. Jaga alam kita tetap lestari....see you next trip...

" Jika kita mencintai alam, maka alam kita akan selalu memberikan surga untuk kita semua"